This entry was posted
on Friday, November 13, 2009
at 6:22 PM
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
GUESTBOOK
AIRMATA RASULULLAH S.A.W
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam.' kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?' 'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. 'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. 'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?' Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. 'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ' kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?' Tanya Jibril lagi. 'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?' 'Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. 'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. 'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. 'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 'Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.' Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. 'Ummatii, ummatii, ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?' 'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. 'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. 'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?' Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. 'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ' kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?' Tanya Jibril lagi. 'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?' 'Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. 'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?' Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. 'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. 'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. 'Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.' Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. 'Ummatii, ummatii, ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Tidak Mau Masuk Syurga
Digelapnya malam, didalam redupnya sinar lampu kamar, seorang anak kecil berusia sekitar 5thn berdoa dengan sangat khusyuknya. Para malaikat yang sedang menatap kumpulan doa dari para manusia tersentuh…apa gerangan yang mahluk kecil itu inginkan, maka sang malaikat menghampirinya...Anak kecil itu terkejut, apa dia ada salah sehingga malaikat itu sendiri yang menghampirinya untuk menegur? atau, apa doa yang dia panjatkan terlalu berlebihan, sehingga malaikat memintanya untuk menghentikan panjatan doa2 itu..
Anak kecil itu lebih terkejut lagi, ketika sang malaikat mengajaknya bertanya tentang doanya “Apa gerangan yang engkau inginkan wahai mahluk kecil hamba Allah?”
“Apa gerangan yang membuatmu memantapkan doamu ditengah malam ini, disaat mahluk seusiamu sudah berpadu dengan alam mimpi?, tanya sang malaikat dengan lembut.
Anak kecil itu terdiam..belum pernah sebelumnya ia bertemu dengan malaikat, memimpikannya bahkan tidak.
“aku…aku lagi berdoa”, jawab anak itu. Malaikat itu menatap mata yang memancarkan sinar keluguan dari sang anak “Aku..sedang berdoa kepada Tuhan, agar aku tidak dimasukkan ke surga”, lanjut anak itu.
“Kenapa engkau tidak ingin masuk surga wahai mahluk yang masih bersih dari dosa? engkau bisa memiliki segalanya disitu..mainan yang tak terbatas, kue-kue lezat yang bisa kau makan setiap waktu, semua keinginan mu akan ada disitu”, cakap sang malaikat
“Tapi disitu pasti tidak ada Mama dan Papa…………..”, isak sang anak kecil. “Kata buku agama, yang bisa masuk surga hanya orang yang rajin beramal, rajin membantu sesama , yang baik hati”, lanjut sang anak kecil.
“Mama tidak pernah mau membantu orang lain, pengemis dijalanan pun ia tepis dengan kakinya………”
“Sedangkan papa, dia memang rajin beramal, tapi hanya ketika amal itu bisa dipamerkan ke orang…”
“Mereka berdua memang baik hati, tapi hanya kepada aku, tidak kepada orang lain”
“Aku sayang mama dan papa, tapi aku ga mau menjadi anak baik, dan berada di surga sendirian, tanpa mama dan papa”.
Sang malaikat mendengarkan penjelasan sang anak dengan seksama...entah darimana pemikiran seperti itu bisa muncul dari tubuh mungil seorang anak yang bahkan membaca pun belum lancar.
“Wahai mahluk kecil yang dicintai setiap orang yang melihatmu, disurga nanti, mungkin memang tidak akan ada mama dan papamu“.
“Tapi, jika kamu ada disitu, kamu bisa berdoa untuk menarik mama dan papamu kedalamnya, sehingga kamu tidak akan sendiri lagi”
“Tapi jika kamu memilih berada disisi lainnya, maka sesungguhnya kamu dan mama papa mu, akan tetap kekal didalamnya.”
“Apakah kamu menginginkan hal itu? wahai mahluk kecil?” jawab sang malaikat. Lalu Anak kecil itu pun terdiam sebentar, kemudian ia pun lanjut berkata “Apa aku bisa menarik mama dan papa kedalam surga kelak wahai malaikatku sayang?” tanyanya untuk memastikan.
“Hanya jika kamu menjadi anak baik, shaleh , berbakti kepada orangtuamu, Kelak, semua itu bisa kau lakukan, jika Tuhan menghendaki.” jawab sang malaikat dengan lembut.
“Baiklah…aku akan jadi anak baik , shaleh, dan berbakti kepada orangtua”, lanjut si anak kecil. kemudian anak kecil itu kembali berdoa, lebih khusyuk dari sebelumnya.
Sang malaikat tersenyum, dan kembali bertanya “Sekarang, doa apalagi yang engkau panjatkan wahai mahluk dengan sejuta doa?”
“Aku sedang berdoa, semoga Tuhan tidak jadi mengabulkan permintaanku sebelumnya , dan memasukkan aku kedalam surga”,Jawab sang anak kecil dengan senyum
Anak kecil itu lebih terkejut lagi, ketika sang malaikat mengajaknya bertanya tentang doanya “Apa gerangan yang engkau inginkan wahai mahluk kecil hamba Allah?”
“Apa gerangan yang membuatmu memantapkan doamu ditengah malam ini, disaat mahluk seusiamu sudah berpadu dengan alam mimpi?, tanya sang malaikat dengan lembut.
Anak kecil itu terdiam..belum pernah sebelumnya ia bertemu dengan malaikat, memimpikannya bahkan tidak.
“aku…aku lagi berdoa”, jawab anak itu. Malaikat itu menatap mata yang memancarkan sinar keluguan dari sang anak “Aku..sedang berdoa kepada Tuhan, agar aku tidak dimasukkan ke surga”, lanjut anak itu.
“Kenapa engkau tidak ingin masuk surga wahai mahluk yang masih bersih dari dosa? engkau bisa memiliki segalanya disitu..mainan yang tak terbatas, kue-kue lezat yang bisa kau makan setiap waktu, semua keinginan mu akan ada disitu”, cakap sang malaikat
“Tapi disitu pasti tidak ada Mama dan Papa…………..”, isak sang anak kecil. “Kata buku agama, yang bisa masuk surga hanya orang yang rajin beramal, rajin membantu sesama , yang baik hati”, lanjut sang anak kecil.
“Mama tidak pernah mau membantu orang lain, pengemis dijalanan pun ia tepis dengan kakinya………”
“Sedangkan papa, dia memang rajin beramal, tapi hanya ketika amal itu bisa dipamerkan ke orang…”
“Mereka berdua memang baik hati, tapi hanya kepada aku, tidak kepada orang lain”
“Aku sayang mama dan papa, tapi aku ga mau menjadi anak baik, dan berada di surga sendirian, tanpa mama dan papa”.
Sang malaikat mendengarkan penjelasan sang anak dengan seksama...entah darimana pemikiran seperti itu bisa muncul dari tubuh mungil seorang anak yang bahkan membaca pun belum lancar.
“Wahai mahluk kecil yang dicintai setiap orang yang melihatmu, disurga nanti, mungkin memang tidak akan ada mama dan papamu“.
“Tapi, jika kamu ada disitu, kamu bisa berdoa untuk menarik mama dan papamu kedalamnya, sehingga kamu tidak akan sendiri lagi”
“Tapi jika kamu memilih berada disisi lainnya, maka sesungguhnya kamu dan mama papa mu, akan tetap kekal didalamnya.”
“Apakah kamu menginginkan hal itu? wahai mahluk kecil?” jawab sang malaikat. Lalu Anak kecil itu pun terdiam sebentar, kemudian ia pun lanjut berkata “Apa aku bisa menarik mama dan papa kedalam surga kelak wahai malaikatku sayang?” tanyanya untuk memastikan.
“Hanya jika kamu menjadi anak baik, shaleh , berbakti kepada orangtuamu, Kelak, semua itu bisa kau lakukan, jika Tuhan menghendaki.” jawab sang malaikat dengan lembut.
“Baiklah…aku akan jadi anak baik , shaleh, dan berbakti kepada orangtua”, lanjut si anak kecil. kemudian anak kecil itu kembali berdoa, lebih khusyuk dari sebelumnya.
Sang malaikat tersenyum, dan kembali bertanya “Sekarang, doa apalagi yang engkau panjatkan wahai mahluk dengan sejuta doa?”
“Aku sedang berdoa, semoga Tuhan tidak jadi mengabulkan permintaanku sebelumnya , dan memasukkan aku kedalam surga”,Jawab sang anak kecil dengan senyum
SUPPLICATION
JAM
LAMAN WEB KEMENTERIAN DAN PEJABAT UGAMA
BLOG SEKOLAH-SEKOLAH UGAMA
BLOG SEKOLAH-SEKOLAH RENDAH
Contributors
- Sek Ugama PAP Norain Tutong
- suputerinorain@gmail.com
KALENDER

KATA-KATA HIKMAH
Jangan sekali-kali
kita meremehkan
sesuatu perbuatan
baik walaupun
hanya sekadar
senyuman.
Dunia ini umpama
lautan yg luas.
Kita adalah kapal
yg belayar di
lautan telah ramai
kapal karam di
dalamnya.. andai
muatan kita adalah
iman, dan layarnya
takwa, nescaya kita
akan selamat dari
tersesat di
lautan hidup ini.
Hidup tak selalunya
indah tapi yang
indah itu tetap hidup
dalam kenangan
Setiap yang kita
lakukanbiarlah
jujur kerana
kejujuran itu
telalu penting
dalam sebuah
kehidupan.
Tanpakejujuran
hidup sentiasa
menjadi mainan
orang.
Hati yg terluka umpama
besi bengkok walau
diketuksukar kembali
kepada bentuk asalnya.
Dalam kerendahan hati
ada ketinggian budi.
Dalamkemiskinan harta
ada kekayaan jiwa.
Dalam kesempitan hidup
adakekuasaan ilmu.
Ikhlaslah menjadi diri
sendiri agar hidup
penuh dengan
ketenangan dan
keamanan. Hidup
tanpa pegangan
ibarat buih-buih
sabun. Bila-bila
masa iaakan pecah.
Kegagalan dalam
kemuliaanlebih
baik daripada
kejayaandalam
kehinaan. Memberi
sedikit dengan
ikhlaspula lebih
mulia dari memberi
dengan banyak tapi
diiringi dengan
riak.
Tidak ada insan suci
yang tidak mempunyai
masa lampau dan
tidak ada insan yang
berdosa yang tidak
mempunyai masa depan.
Kata-kata yang lembut
dapat melembutkan
hati yang lebih
keras dari batu.
Tetapi kata-kata
yang kasar dapat
mengasarkan hati
yang lunak seperti
sutera.
Lidah yang panjangnya
tiga inci boleh
membunuh
manusia yang
tingginya enam kaki.